Jumat, 25 September 2009

REASON

The Unromantic Romeo. Itulah penilaian Icha pada pacarnya, Romeo Dylan Putra yang akrab disapa Dylan. Meski Dylan nggak romantis, tapi hubaungan mereka masih jalan terus. Dan agenda mereka hari ini adalah makan bareng dan mau dilanjutin nonton bareng kalau waktunya memungkinkan. Tapi, Dylan yang ditunggu dari tadi di taman kota nggak datang juga. Sudah lumayan lama Icha nunggu Dylan, sampai-sampai ice cream yang Icha beli buat Dylan sudah cair.
Sepuluh menit kemudian….
“Sorry lama..”
“Kemana aja sih? Aku udah nunggu kamu dari tadi!”
“Iya maaf…”
“Terus, kenapa ke sini malah lari-lari?”
“ Tadi tiba-tiba ban motorku bocor di jalan waktu mau ke sini. Untung tadi di tempat tambal ban yang ramenya minta ampun aku liat temen sekelasku yang rumahnya nggak jauh dari situ buat nungguin motorku sampai bannya selesai ditambal. Aku jelasin ke dia kalau aku ada janji mau jalan ma kamu. Makanya dia mau bantu aku. jadi nanti kalau udah selesai nanti dia sms aku ”
“Terus,kenapa kamu ke sininya lari? Nggak pinjam motor temenmu?”
“Habisnya,jarak dari tempat tambal ban ke sini nggak begitu jauh juga. Jadi, ya aku lari aja. Aku nggak mau ngebuat kamu nunggu lama. Hehehe”
“Nih!”ucap Icha sambil nasih ice cream yang udah cair ke Dylan.
“Lho? Kok udah cair dikasihin ke aku?”
“ Aku nunggu kamu sampai ice cream itu jadi cair. Jadi menurutmu aku nunggu kamu nggak lama?”
“Sorry, Cha”
“..Okeh. sebagai gantinya aku traktir kamu makan. Tempatnya nggak jauh dari sini. Yuk, kita jalan bareng aja ke sana. Makanannya lezat-lezat lho..”lanjut Dylan.

* * *

Rasa capek Icha karena menunggu sudah hilang. Begitu juga dengan Dylan yang tadi capek karena udah lari-lari. Yuph! Kelezatan makanan yang sudah mereka makan sudah menghapus semua rasa capek mereka.
“ Dy, aku pengen Tanya ke kamu”
“Apa?”
“Emang tempat tambal ban tadi beneran rame?”Tanya Icha.
“Kirain Tanya apa? Kamu masih penasaran ya? Nggak percaya ama yang aku bilang?”
Icha hanya diam.
“Sebenarnya nggak rame-rame amat. Tadi Cuma ada dua orang yang mau nambal ban juga. Tapi, kalau aku tunggu sampai motorku beres. Kita pasti nggak bisa makan bareng kayak begini”
“Trus, temenmu baik ya..mau bantuin kamu nungguin motormu sampai selesai”
Dylan hanya nyengir.

“Dy”
“Iya. Ada apa lagi?”
“Aku mau Tanya lagi”
“Iya.mau Tanya apa?”
“Dy, apa kamu memikirkanku?”
“nggak”
“Dy, apa kamu menginginkanku?”
“Nggak”.Untuk kedua kalinya Dylan menjawab dengan jawaban yang sama.
Mendengar jawaban dari Dylan, mata Icha berkaca-kaca mau nangis. Icha pun mulai berdiri dari kursinya buat ninggalin Dylan.
“ The Unromantic Romeo”lirih Icha sewaktu mau melangkah pergi.
“ Cha!”seru Dylan.
“..ini temenku udah sms. Jangan pergi dulu. Pulangnya aku anterin aja”lanjut Dylan.
Icha kecewa atas respon Dylan yang ternyata nggak seperti yang dia harapkan. Icha berharap Dylan mencegahnya pergi lalu Dylan mau njelasin jawabannya tadi.
“Icha…”ucap Dylan yang ternyata udah beranjak dari kursinya dan kini sudah ada di hadapan Icha buat mencegahnya pergi. Icha pun kemudian duduk kembali sambil menyeka air mata.
“ Cengeng”ucap Dylan.
Icha yang nggak suka Dylan mengatakan kata itu, langsung ia tatap tajam.
“Oke. I’m not romantic menurut kamu. Dan aku juga nggak perduli kamu mau bilang kalau aku ini The Unromantic Romeo, TheUnromantic Dylan or The Unromantic Putra. Tapi, kamu dengerin dulu penjelasan dari jawabanku tadi yang mungkin udah buat kamu kecewa”
“…Alasan kenapa aku nggak pernah mikirin kamu karena buat apa aku mikirin kamu kalau kamu ada dalam pikiranku. Lagian kenapa kamu tanya begitu? Tadi aku berlari buat ketemu kamu. Aku mikirin kamu. Aku nggak mau ngebuat kamu kelamaan nunggu aku.”
“…Terus, alasan kenapa aku nggak menginginkanmu adalah karena aku membutuhkanmu. Buktinya, sekarang ini aku butuh kamu buat bantu aku bayar makanan yang tadi udah kita pesan. Dompetku ketinggalan. Please…”
“Huh! Sekali The Unromantic Romeo tetep aja The Unromantic Romeo”
Dylan hanya bisa nyengir.
“Pinjam dulu nanti aku ganti. Oke!”
Pembayaran pun kelar.
“ Yuk pulang! Aku anter. Motorku udah ada di parkiran depan. Ternyata temenku nganterin motorku sampai sini. Tapi, dia langsung pulang bonceng temenku yang laen”
“ Wah,temenmu baik banget. Oiya, kita nggak jadi nonton?”
“Kamu mau bayarin?”
“Nggak makasih. Yuk pulang aja”

- THE END -

STORY BEHIND THE NAME

Merah. Semua kalender berwarna merah untuk hari ini. Dan untuk anak sekolah seperti Bagus, berarti hari libur dan nggak perlu ke sekolah. Jam dinding di rumah Bagus menunjukkan pukul 10 pagi. Tapi,apa yang dilakukan oleh Bagus dari tadi hanyalah duduk diam termenung di ruang tamu.
“Nak,”panggil ibunya yang melewati ruang tamu hendak ke luar rumah.
Bagus hanya tersenyum nggak menjawab.
“Kamu nanti mau pergi?”
Kali ini Bagus hanya menggeleng.
“Ibu mau pergi ke rumahnya bu Salma buat bantu-bantu bungkus jenang. Adik-adik lagi maen di rumahnya Risyad. Kamu awasi juga ya..Kakakmu dari habis subuh sudah pergi ke Kiosnya Bang Wawan”
Sekali lagi Bagus hanya tersenyum.
Ibu, kakak, dan 2 Adik Bagus yang kembar, Itulah keluarga Bagus,minus seorang kepala rumah tangga. Keluarga broken home. Ibu, Seorang Ibulah yang telah membuat Bagus jadi seperti itu. Duduk diam dan merenung.
Hari ini adalah hari ulang tahun Bagus. Dan pagi ini sekitar pukul 6 pagi ketika Bagus baru saja bangun tidur dan keluar kamar dia langsung mendapat hadiah dari ibunya. Memang bukan berwujud barang. Tapi, menurut Bagus itu sangat berarti. Kado itu berupa sebuah pelukan,tangisan dan ucapan. Ibunya langsung memeluknya begitu Bagus keluar kamar. Ibunya menangis dan kemudian mengucapkan selamat ulang tahun. Hal inilah yang membuat Bagus merenung.
”Entah kenapa Ibu yang baik hati itu memeluk anaknya yang tingkah lakunya tidak sesuai dengan namanya sendiri”
Bagus. Sebuah nama yang terselip do’a. Do’a orang tua agar anaknya kelak menjadi anak yang bagus seperti namanya. Tapi,apa daya. Kepada Ibunya sendiri Bagus malah menujukkan prilaku yang sebaliknya. Apa yang selama ini sudah diperbuat Bagus hanyalah membuat masalah. Mulai dari bolos sekolah, uang spp yang malah dibuat untuk maen PS.dll.
Kakak. Kakak Bagus bernama Alif. Alif Cuma beda 2 tahun dengan Bagus. Alif sekarang ini kelas 1 SMA dan Bagus kelas 2 SMP. Namanya Alif, mungkin karena dia anak pertama dan seperti huruf hijaiyah pertama yang tampak tegak, seperti itu jugalah kakak Bagus. Dia tetap tegak menjalani hidup di tengah keluarga Broken home yang telah membuatnya menjadi seorang kepala rumah tangga menggantikan ayahnya yang seorang pecundang karena meninggalkan istri dan keempat anaknya untuk wanita lain. Bagus sangat benci keadaan itu. Dan karena keadaan itulah hidupnya jadi berantakan. Bagus tidak bisa seperti kakaknya yang dengan tegak melanjutkan hidup.
Bagus dan Alif sering bertengkar. Alif sering memarahi prilaku adiknya yang salah. Maksud hati ingin menasihati.Tapi, Bagus malahan nggak terima dan nggak ngedengerin apa yang sudah kakaknya bilang. Pernah juga Alif hampir memukul muka adiknya itu gara- gara Bagus yang mulai berani ngomong kata- kata kotor yang kasar dengan nada tinggi di saat di antara mereka ada adik- adiknya yang masih SD.
Tapi, sekarang ini Bagus sudah sadar. Dan dia ingin mewujudkan do’a dibalik namanya. Menjadi pribadi yang lebih bagus.

* * *
Next Day,
Seperti mau menyatakan cinta , seseorang perlu waktu yang tepat. Dan meski Bagus nggak mau menyatakan cinta tapi sekarang ini dia lagi mencari waktu yang tepat buat ngomong sama kakaknya.
Sore hari, Bagus melihat Alif lagi duduk di teras.
“Yuph! Ini dia moment yang pas,” kata Bagus.Bagus segera menghampiri kakaknya.
“Sore, Kak”sapa Bagus.
“Tumben kamu sopan. dan tumben tadi kamu nggak bolos?”Tanya Alif datar.
“Iya. Aku mau berubah”
“Apa yang membuat kamu berubah. Selama ini kata- kataku nggak pernah kamu dengerin”
“Iya. Aku minta maaf atas apa yang selama ini udah aku lakuin”
“…Aku boleh tanya nggak?”lanjut Bagus.
“ Tanya apa?”
“Apa kakak yang nyuruh ibu ngasih kado kemaren?”
“kado?memang ibu ngasih apa?”
“Berarti,kakak nggak nyuruh ibu”
“..Gini lho kemaren waktu aku keluar kamar habis bangun tidur, Ibu langsung meluk aku terus nangis dan ngucapin selamat ulang tahun”
“Itu inisiatif ibu sendiri. Jadi kamu mulai berubah gara- gara itu?”
Bagus hanya diam.
“Yah, baguslah kalau begitu” ucap Alif di tengah diamnya Bagus.
Moment yang bagus seperti ini nggak disia-siakan Bagus. Dia mulai bicara lagi dengan kakaknya. Bercengkrama layaknya kakak beradik yang akrab. Yang saling bercerita tentang kejadian hari ini.
“Kak, tau nggak tadi temen- temen di sekolah juga pada heran lho..”ucap Bagus buat mengawali ceritanya.
“Ya iyalah mereka pada heran liat kamu yang biasanya bolos hari ini nongol di sekolah,”tanggap Alif.
“ Iya sih. Tapi mereka ngira hari ini aku nggak bolos gara- gara ada pelajaran Olahraga. Terus aku nggak jawab apa- apa”
“Kenapa?”
“Soalnya menurutku pertanyaan mereka itu retoris. Soalnya tadi aku pake kaos olahraga yang beda sama yang mereka pake”
“Kok bisa?”
“Iya.tadi aku lupa nggak bawa kaos olahraganya.jadi aku pinjam punya anak kelas 3 yang gak kut olahraga gara2 sakit. Kan kaos olahraganya kelas 3 pada beda2 soalnya diberi kebebasan sama guru olahraga kelas 3 buat bikin kaos olahraga lagi”
“Lupa nggak bawa kaos olahraga? Bilang aja kamu itu lupa ma jadwal pelajarannya. iya kan?”
“Hehehehe…ketahuan deh”
“Kakak…kakak”teriak adik kembar Bagus, Angga dan Anggi dari kejauhan mau menuju ke teras.
“Ada apa?”Tanya Alif.
“Nih, Kak. Ada titipan dari Kak Dito,”jawab Anggi sambil menyerahkan selebarannya.
“Ya udah Kalian masuk dulu. Tadi dicariin ibu”
“Oke deh Kak”ucap Angga.
Angga dan Anggi pun masuk ke dalam rumah. Sementara itu Alif membaca selebaran tadi.
“Selebaran apaan sih?lagian Dito tu siapa?”Tanya Bagus.
“Nih baca sendiri”
“Nggak ah males”
“Kenapa males banget sih kalo disuruh baca? trus selama ini kamu belajar gimana? kamu nggak mau ngerubah kebiasaan burukmu ini?”
“Ntar seiring berjalannya waktu. So, isinya apa?”
“Perlombaan bulu tangkis.dalam rangka HUT RI. yang ngadain anak- anak muda sini. ketuanya ya si Dito itu”
“O…”
“Makanya. Kamu tu jangan di rental PS-an aja. jadi nggak kenal kan?”
“Iya. Iya. Tapi, kenapa dia ngasih selebaran ini ke kak Alif? terus biasanya kan lomba HUT RI nggak da lomba bulu tangkis?”
“Mungkin dia pengen kakak ikut soalnya kita biasanya maen bulu tangkis bareng”
“Eh,a da hadiahnya nggak?”Tanya Bagus.
“Ada. Piala ma uang kayaknya. Kenapa? kamu tertarik?”
“Iya. Aku pengen buat ibu seneng. Aku pengen menang ma ngedapetin hadiahnya. Terus nanti hadiahnya aku beliin sesuatu buat ibu”
“Begitu”
“Engg..Tapi kayaknya aku nggak mungkin menang”
“lho..kenapa?”
“Ya iyalah. Seandainya aku sampai ke babak final. Aku pasti akan melawan kakak nantinya. Itu juga setelah aku berharap aku nggak melawan Kak Dito. Jadi kak Dito sudah kakak kalahkan. Aku nggak bisa menang lawan kakak”ujar Bagus.
“Yang di lombakan kan nggak Cuma tunggal putra. Ada juga Ganda Putra dan yang lain2”
“Terus menurut kakak aku ikut yang Ganda Putra gitu?Tapi…”
“Tapi kenapa?”
“Ntar jadinya nggak sesuai harapan Kakak ma Kak Dito dong. Kalian kan berharap bisa jadi rival beneran di perlombaan”
“Tumben kamu mikirin orang lain?”Tanya Alif.
Kali ini Bagus nggak hanya diam saja tapi menjwab,”Bagian dari perubahan”
“Ya sudah ikut yang Ganda Putra aja. Lagian dia juga punya adik cowok kok. Ntar aku bilang ke dia kalo aku nggak ikut tunggal putra. Kalau dia emang bener- bener mau bertanding sama kakak kayak yang kamu bilang tadi, Dia pasti mau kok. Tenang aja”
“Jadi kakak mau bantu aku?”
Alif hanya mengangguk dan kemudian masuk ke rumah.

***

Malam ini adalah malam menuju esok hari perlombaan.
“Alif, Bagus..beberapa hari ini ibu lihat kalian latihan untuk lomba bulu tangkis sudah beda sekali waktu kalian main bulu tangkis sewaktu SD. Dulu kalian sering berantem di tengah permainan bulu tangkis”kata ibu Bagus dan Alif.
“Ya. Seiring berjalannya waktu kita sudah semakin dewasa,Bu”jawab Alif.
“Ya. Do’akan kita ya, Bu”ucap Bagus sebelum pergi meninggalkan ruang tamu untuk tidur ke kamar.
“Iya, Nak”

***

Hari perlombaan pun tiba….
Suasananya ramai sekali. Semua orang menikmati Euforia HUT RI dengan lomba- lomba yang diadain. Sementara itu Bagus dan Alif selalu menang menghadapi lawan - lawannya sehingga mereka pun sudah sampai ke babak perempat final. Karena cabang perlombaan yang lumayan banyak, perlombaan pun harus dilanjutkan di lain hari. Dan atas kesepakatan bersama perlombaan akan dilanjutkan hari minggu.

***
Hari ini hari minggu yang dinanti. Euforia kedua.
Pertandingan hari ini lumayan melelahkan buat Bagus dan Alif. Yuph! itu karena lawan yang dihadapi berat sehingga harus sampai 3 set untuk mengalahkannya. Ternyata Kak Dito dan adiknya begitu hebat. Mereka berhasil menuju final hanya dengan mengalahkan semua lawannya dalam 2 set. Dan sesuai dengan harapan kak Dito, dia bertanding dengan Alif.
Pertandingan final di antara kami berlangsung seru. Smash- smash yang dilakukan oleh Alif maupun kak Dito membuat orang - orang yang melihat menjadi kagum. Kejar - kejaran angka terjadi. Dan pada akhirnya mereka harus melakukan set ke 3 karena pada set pertama Bagus dan Alif menang sementara pada set kedua mereka kalah.
Peluh sudah membasahi mereka yang bertanding. Dan akhirnya Smash yang turun tajam dari Alif membuat impian adiknya untuk jadi juara terwujud.
“Yeah!”teriak Bagus.
Semua orang - orang yang melihatpun kemudian bertepuk tangan.
“Makasih, Kak”ucap Bagus ke kakaknya.
Alif hanya tersenyum dan kemudian pergi untuk bersalaman dengan Dito. Dito menerima kekalahannya.
Hadiah pun diberikan kepada Bagus dan Alif sebagai juaranya.Mereka pun pulang dengan sangat gembira,terutama Bagus.

***

“Nih,uangnya aku serahkan ke kamu”kata Alif.
“..Besok Ibu Ulang tahun”lanjutnya.
“Kak, gimana kalau uang hadiah ini aku belikan kue tart aja. Supaya semuanya juga bisa menikmati. Aku,Ibu Kakak,dan Adik - adik? gimana? Ini kan juga hasil kerja keras kakak. Aku kan cuma sedikit ambil andil kemenangan kita”
“Ya. Boleh juga”

***
“Angga! Anggi! Ibu di ruang tamu…ayo siap-siap ke sana”komando Alif.
“Selamat Ulang Tahun”
“Selamat Ukang Tahun”
Angga dan Anggi mulai menyanyi untuk merayakan ulang tahun ibunya didampingi Alif.
Kemudian, dari dapur Bagus ke luar untuk ke ruang tamu sambil membawa kue tart.
“Tiup lilinnya..Tiup lilinnya”ucap Bagus.
“Do’a dulu,Bu”kata Alif.
Lilin pun mati.
Bagus kemudian menaruh kue tartnya di meja kemudian langsung memeluk ibunya. Dia menangis.
“Selamat Ulang Tahun,Bu”
hiks..hiks…
“Terima kasih,Bu.”
Setelah dipeluk Bagus. Ibu Bagus lalu memeluk Alif dan setelah itu memeluk Angga dan Anggi.
“Terima kasih ya, Anak-Anakku”
Bagus dan Alif hanya bisa tersenyum bahagia.
“Tapi, Ibu jadi malu.Ibu kan sudah tua masak ulang tahun dirayain pake kue tart seperti ini”
“Ah, Ibu nggak perlu malu”jawab Bagus.
“Bener, Bu. Lagian penggagas semua ini adalah Bagus”sambung Alif.
Bagus hanya diam.
“Terima kasih ya Bagus”
Dan itu adalah sebagian dari perubahan. Sedikit perubahan untuk menjadi pribadi yang lebih bagus,seperti nama Bagus.

- The End -