Kamis, 30 Desember 2010

I will make you feel comfort with me.

Kalau aku bilang aku g jealous saat kamu cerita tentang mantan kamu, saat itu aku bohong ke kamu. Yups, kenyataannya aku memang jealous.

Aku tahu aku masih belum ada apa-apanya dengan mantanmu.

Untuk memberikan apa yang kamu inginkan pun aku tak bisa semudah dia.

Tapi, aku tak kalah kok dari dia.

Setidaknya aku masih pantas tuk berada di sampingmu.

Aku g bikin kamu malu saat kamu bersamaku.

Tolong, berhentilah membicarakannya.

Tolong, lupakan dia untukku.

Aku berharap kisah cinta ini adalah antara aku dan kamu.

Bukannya kamu dan dia.

Kisahmu dan dia adalah masa lalu.

Yang ku harapkan berlalu.

Tolonglah, untuk hal ini berjuanglah untukku.

Sepertiku yang sudah memberanikan diri memperingatkan dia untuk tidak mengganggu kehidupanmu denganku.

Saat dimana waktu membawa ke perpisahan kita.

Saat-saat itulah aku merasa sangat kehilangan dirimu.

Tapi, saat semua itu bisa kita perbaiki lagi

Apa kau tahu?

Kamu tlah mengembalikan senyumku.

Aku senang bisa bersamamu.

Aku ingin kamu menerima keadaanku apa adanya.

Dan aku pun akan berusaha tuk jadi yang terbaik untukmu.

Aku tidak ingin kehilanganmu lagi.

Aku akan mempertahankanmu.

Karena mengingat perjuanganku untuk mendapatkamu pun sangat panjang.

Dan yang harus aku bisa adalah membuatmu merasa nyaman dan aman bersamaku.

Karena aku tidak ingin kehilanganmu tuk kedua kali.

[terinspirasi oleh kisah seorang teman]

Selasa, 14-12-2010

21:58

For Hurted, For Broked

This is my heart.

It’s for hurted.

It’s for broked.

I’m just a kid.

I’m feeling nothing.

I’m just a stupid people.

What’s your game name?

Why you want to play it with me?

No, no, no…

I never want to play…

You add me to your game without my permission

Arrrghhh…hssh,

I hate your way!

Selasa, 14-12-2010

22:27

LOVE, LOGIC AND HEART

Hei,

Sungguh! kamu itu aneh.

Argumen-argumenmu tentang cinta.

Dan belum lagi tentang kisahmu.

Aku sungguh tak mengerti denganmu.

Ingin ku tertawa tapi, kasihan kamu.

Aku harus bilang kamu itu apa?

Bagaimana?

Kamu itu bodoh atau kamu memang anak kecil.

Masih terlalu dini.

Masih terlalu lugu tentang masalah hati dan cinta?

Aku heran dengan kamu.

Mengapa kamu masih bisa berbuat baik ke orang yang sudah menghancurkan hatimu?

Yang sudah memberikan luka di hatimu

Hingga kamu getir dalam hidupmu.

Mengapa kamu masih bisa tersenyum kepadanya?

Mengapa kamu tidak membencinya?

Seiring bertambahnya usiamu.

Aku tahu lukamu tak mungkin hilang.

Dan saat menurut orang lain kamu itu dipermainkan,

Sebenarnya kamu tahu apa nggak sih kalau kamu itu dipermainkan?

Mengapa sekali lagi kamu masih bisa berbuat baik ke mereka yang seperti itu?

Mengapa kamu tidak membenci mereka?

Apa kamu tidak merasa sakit?

apa karena kamu masih berpikiran kalau kamu itu gak punya hati?

Karena hatimu sudah hancur berantakan,

Sudah remuk di masa sebelumnya?

Sungguh aku tak mengerti denganmu.

Pemikiran-pemikiranmu tentang cinta dalam kehidupan ini terkadang membuatku heran

Tapi, tanggapan yang kamu terima malahan kamu dianggap terlalu banyak mikir dan kamu diminta untuk menjalani apa adanya.

Hmm…

Aku masih bingung tentangmu.

Aku masih tak mengerti denganmu.

Bukannya ku tak bisa tanpamu

Bukannya ku tak bisa tanpamu.

Mungkin untuk melepasmu bersama orang lain aku bisa.

Melihatmu bersama orang lain aku bisa.

Tapi, apa kau tahu bagian-bagian tersulit yang harus aku jalani

selepas kepergianmu?

Kebiasaan.

Bersamamu tlah membuat kebiasaan baru dalam hidupku.

Dan tanpamu kini aku harus kembali pada kebiasaan lamaku.

Kebiasaan tanpamu dan mungkin sebelum aku mengenalmu.

Apa kau tahu?

Itu tak mudah bagiku.

Dan mungkin tak akan bisa.

Karena kamu pasti akan tetap muncul dalam kehidupan ke depanku.

Minggu, 21 November 2010

*mati muda*

Beberapa waktu yang lalu aku membaca catatan salah seorang temenku dan kakaknya di FB-mereka. Catatan tentang seorang temannya yang sudah meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Sedikit yang bisa aku ceritakan kembali dari catatan mereka dengan bahasa aku sendiri:


Catatan seorang temanku

Dia menulis catatan itu untuk seorang temannya yang sudah sekitar satu tahun meninggalkannya. Dia merindukannya. Dia masih ingat jelas akan kebiasaan2 temannya itu. Dan itu juga yang dia rindukan. Dan sedikit kata2 yang aku kutip dari catatan itu adalah: “Kamu sudah bisa berdamai dengan kematian, Lantas kenapa aku tak juga bisa berdamai dengan kenyataan”…”aku kangen kamu”.


Catatan kakak dari seorang temanku

Dia juga menulis sebuah catatan untuk seorang temannya yang sudah meninggal dunia. Di catatan itu dia menceritakan tentang pengalamannya bersama teman2nya pergi ke luar kota untuk berziarah ke makam temannya dan bersilaturahmi ke keluarga temannya itu.


Dari catatan2 mereka aku jadi berpikir. Bagaimana seandainya itu aku? Bagaimana seandainya aku pergi untuk selamanya pada suatu waktu dimana aku masih muda dan itu pasti aku hidup dalam suatu lingkungan social.

Jika aku sudah berdamai dengan kepastianku(kematianku),

Apa ada teman yang akan merindukanku?

Jika aku sudah berdamai dengan kepastianku(kematianku),

Apa ada teman yang akan merasa kehilanganku?

Jika aku sudah berdamai dengan kepastianku(kematianku),

Apa ada teman2 yang akan meluangkan waktunya untuk berziarah ke makamku dan menegok keluargaku?menghibur keluargaku?membuat mereka tersenyum?

Aku hidup aja aku kadang bertanya pada diri sendiri: ”Apa aku punya teman???”.


Teman sebenarnya teman mungkin ada atau tidak aku tidak tau. Dan kalau ada pun itu bisa dihitung dengan jari. Kebayakan teman itu di belakangnya pasti kebanyakan ketambahan kata: “sekelas” yup! Teman sekelas. Keberadaan yang meragukan. Karena walaupun dalam satu kelas belum tentu semuanya saling kenal.


Dan dari catatan2 mereka aku jadi berpikir:

Aku berfikir kalau temannya temanku dan temannya kakaknya temanku yang sudah berdamai dengan kepastian mereka adalah orang baik. Ya, Orang baik.

Dan aku juga berpikir tentang bagaimana perasaan orang tua yang ditinggalkan melihat kedatangan teman2 dari buah hatinya yang sudah meninggal. Mereka Sedih tapi, bisa sedikit tersenyum dengan kedatangan teman2 dari buah hatinya. Dan mereka pun mungkin dalam hati akan berkata: “Kalau anakku masih hidup mungkin dia sudah sebesar kalian dan berjuang untuk pendidikannya seperti kalian”


Terima kasih untuk temanku “F”

Dan kakaknya “D”

Atas catatan2 kalian.

Untuk teman2 kalian yang sudah meninggalkan dunia untuk selamanya semoga mendapatkan tempat yang indah dan tenang di sana.



Untuk seseorang yang aku harapkan membaca ini. Kalau mau menceramahiku lagi silahkan. Aku memang aneh. Memikirkan hal2 yang aneh. Tapi, aku tidak berpikir negatif. Aku berpikir seperti itu g ada salahnya kan?? Mungkin kamu memang benar yang bisa aku lakukan hanyalah harus tetap bersyukur dan menjalani hidup aja. Sampai aku sampai pada kepastianku.

Makasih…