Beberapa waktu yang lalu aku membaca catatan salah seorang temenku dan kakaknya di FB-mereka. Catatan tentang seorang temannya yang sudah meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Sedikit yang bisa aku ceritakan kembali dari catatan mereka dengan bahasa aku sendiri:
Catatan seorang temanku
Dia menulis catatan itu untuk seorang temannya yang sudah sekitar satu tahun meninggalkannya. Dia merindukannya. Dia masih ingat jelas akan kebiasaan2 temannya itu. Dan itu juga yang dia rindukan. Dan sedikit kata2 yang aku kutip dari catatan itu adalah: “Kamu sudah bisa berdamai dengan kematian, Lantas kenapa aku tak juga bisa berdamai dengan kenyataan”…”aku kangen kamu”.
Catatan kakak dari seorang temanku
Dia juga menulis sebuah catatan untuk seorang temannya yang sudah meninggal dunia. Di catatan itu dia menceritakan tentang pengalamannya bersama teman2nya pergi ke luar kota untuk berziarah ke makam temannya dan bersilaturahmi ke keluarga temannya itu.
Dari catatan2 mereka aku jadi berpikir. Bagaimana seandainya itu aku? Bagaimana seandainya aku pergi untuk selamanya pada suatu waktu dimana aku masih muda dan itu pasti aku hidup dalam suatu lingkungan social.
Jika aku sudah berdamai dengan kepastianku(kematianku),
Apa ada teman yang akan merindukanku?
Jika aku sudah berdamai dengan kepastianku(kematianku),
Apa ada teman yang akan merasa kehilanganku?
Jika aku sudah berdamai dengan kepastianku(kematianku),
Apa ada teman2 yang akan meluangkan waktunya untuk berziarah ke makamku dan menegok keluargaku?menghibur keluargaku?membuat mereka tersenyum?
Aku hidup aja aku kadang bertanya pada diri sendiri: ”Apa aku punya teman???”.
Teman sebenarnya teman mungkin ada atau tidak aku tidak tau. Dan kalau ada pun itu bisa dihitung dengan jari. Kebayakan teman itu di belakangnya pasti kebanyakan ketambahan kata: “sekelas” yup! Teman sekelas. Keberadaan yang meragukan. Karena walaupun dalam satu kelas belum tentu semuanya saling kenal.
Dan dari catatan2 mereka aku jadi berpikir:
Aku berfikir kalau temannya temanku dan temannya kakaknya temanku yang sudah berdamai dengan kepastian mereka adalah orang baik. Ya, Orang baik.
Dan aku juga berpikir tentang bagaimana perasaan orang tua yang ditinggalkan melihat kedatangan teman2 dari buah hatinya yang sudah meninggal. Mereka Sedih tapi, bisa sedikit tersenyum dengan kedatangan teman2 dari buah hatinya. Dan mereka pun mungkin dalam hati akan berkata: “Kalau anakku masih hidup mungkin dia sudah sebesar kalian dan berjuang untuk pendidikannya seperti kalian”
Terima kasih untuk temanku “F”
Dan kakaknya “D”
Atas catatan2 kalian.
Untuk teman2 kalian yang sudah meninggalkan dunia untuk selamanya semoga mendapatkan tempat yang indah dan tenang di sana.
Untuk seseorang yang aku harapkan membaca ini. Kalau mau menceramahiku lagi silahkan. Aku memang aneh. Memikirkan hal2 yang aneh. Tapi, aku tidak berpikir negatif. Aku berpikir seperti itu g ada salahnya kan?? Mungkin kamu memang benar yang bisa aku lakukan hanyalah harus tetap bersyukur dan menjalani hidup aja. Sampai aku sampai pada kepastianku.