Seorang teman pernah berkata, “Kalau nggak suka ya ngomong! Jangan beraninya ngomongin orang di belakang”.
Rasanya aku pengen jawab,”Ya, kalau aku ini orang penting setidaknya buat lawan bicaraku itu dan apa yang aku omongin itu penting menurutku ya aku bakalan ngomong. Kalau nggak penting buatku ngapain harus aku omongin”.
Aku nggak tau apa orang lain itu seperti aku apa nggak (orang yang menganggap dirinya nggak penting). Ya, terkadang aku malas ngomong ke orang kalau masalahnya nggak penting buat aku. Jadi, buat apa aku ngomong ke orang lain, seperti aku dan omonganku itu penting aja buat mereka. Aku nggak tau apa ini sifat jelek apa nggak. Ada sisi baik dimana, memanglah benar seseorang itu nggak boleh ikut campur urusan orang lain. Tapi, aku juga kadang merasa kalau aku nggak ngomong aku justru kayak benar-benar membiarkan dan nggak membantu. Padahal dalam agama, kita diharuskan untuk saling bantu, mengingatkan satu sama lain. Dilema…
“…terus, yang soal ngomongin di belakang. Orang ngomong di depan aja jarang apalagi ngomongin di belakang. Haha. Kan aku pendiem” (just kidding…agak ngeles banyak… wkwkwk …tapi, yang soal pendiem aku serius…aku emang anaknya pendiem)
Aku pernah bilang pada salah seorang teman yang ngerasa nggak terima diomongin di belakang karena ngerasa kalau itu nyakitin hatinya. Aku jawab aja,”Lha diomongin di belakang aja udah sakit rasanya apalagi kalau ngomong terus terang jujur benderang di depan. Huehehe.”
Aku sebenarnya bingung. Sebenarnya apa yang dimau sama orang-orang. aku pernah tau kok kalau aku diomongin sama temenku sendiri di belakangku. Tentang aku yang sepertinya sifatnya sudah berubah. Apa aku ngerasa sakit setelah itu? Dan aku memperkarakan ulah temanku itu? Jawabannya: “Tidak”. Aku justru mikir dan introspeksi diri. Bukan karena takut tapi emang nggak pengen aja cari masalah. Masalah nggak perlu dicari aja udah datang sendiri kok…bener kan? Apalagi datangnya itu nggak diundang…iya kan?
Dan aku juga malas saat kita bicara yang menurutku kita adalah menjalankan ajaran agama yang kayak aku bilang di atas, justru yang kita terima malah ucapan-ucapan kayak: “Sok suci. Sok yes!! Sok pinter! Sok menggurui. Sok pahlawan dan bla bla bla sejenis sok-sok an yang lainnya. Tapi, mungkin itulah tantangannya…bukankah kalau kita pengen berbuat yang baik itu emang banyak rintangannya nggak kayak kalau kita berbuat jelek yang rasanya jalannya mulus aja.
Dan, kesimpulannya adalah kalau rasa suka harus diungkapin, rasa nggak suka harus diomongin. Haha. Bukan itu kayaknya kesimpulannya. Hehe. Maaf sedikit membelokkan. Mungkin kesimpulan yang agaknya tepat adalah kita bicara pada kesempatan yang memanglah diberikan kepada kita.
sekian, terima kasih telah membaca catatan pendek yang mungkin nggak penting juga kali ya… hehe.
Siang ini, Sabtu 03 September 2011
12:24
Tidak ada komentar:
Posting Komentar