Kemaren-kemaren saya habis selesei nonton film barat yang judulnya Notting Hill. Film lama ini favoritnya temen saya. Saya sengaja pinjam film ini di rentalan karena saya penasaran. Apa bagusnya film ini. Kenapa temen saya sampai suka banget. Dan ternyata waktu saya selesei nonton film ini, saya malah bingung dan bertanya-tanya: “mana gregetnya?”. Cuma kisah cinta yang sering ada di film-film. Cuma ini tokoh perempuanya adalah seorang artis dan yang laki-lakinya seorang duda yang bekerja di toko buku. Kemudian, saya waktu Online berkunjunglah ke blognya temen saya itu. Karena seingat saya dia pernah menulis tentang film favoritnya ini. Dari sana saya menemukan hal yang membuatnya tertarik dari film itu adalah karena si tokoh perempuan yang lebih agresif dari pada si tokoh laki-lakinya. Hedheh… emang selera orang itu beda-beda. Hehe…
Kalau saya, saya juga punya film jagoan saya sendiri untuk kisah yang sama (si tokoh perempuan lebih agresif dari pada laki-laki). Tepatnya sih bukan film tapi serial drama. Drama jepang. Judulnya Nodame Cantabile. Sebenarnya ada filmnya juga sih..Jadi, dorama ini diadaptasi dari manga (komik) dan dibuat versi animenya juga. Dorama ini bergenre romantic-comedy. Nonton ini ngakak. Lucu deh… meski mungkin ada yang bilang kalau over atau lebay. Haha. Saya nonton dorama ini juga nggak habis pikir sama si tokoh perempuan yang bernama Noda Megumi atau yang biasa dipanggil Nodame. Mungkin bisa dibilang agresif. Bahkan sampai terobsesi sama si tokoh laki-lakinya yang bernama Chiaki Sinichi. PD abis deh pokoknya. Nggak malu menunjukkan kalau dia emang suka. Kayak di Notting Hill dimana si tokoh perempuannya yang menyatakan perasaannya ke tokoh laki-lakinya, di Nodame Cantabile juga kayak gitu. Si Nodame yang nembak Chiaki.
Tapi, saya juga pernah nonton drama korea dengan tema serupa. Dan entah kenapa saya ngerasa nggak suka. Ngebosenin. Nggak tahu mungkin karena si tokoh perempuannya itu bodoh dan yang laki-lakinya jenius. Hehe..Tapi, dari drama ini ada kutipan bagus yang bisa saya ambil. Bahwa mengejar seseorang hanya membuat keberadaan kita terhadap orang itu tak berarti. Saya sudah pernah membuat catatan tentang ini. Untuk yang pengen membaca silakan baca notes saya yang judulnya Who is really fix you?
Dan kalau saya berpikir tentang perempuan agresif di dunia nyata, dimana justru dia yang “nembak” duluan, tidakkah terlalu kasihan untuk si laki-laki jika laki-laki itu laki-laki baik-baik. Laki-laki baik-baik mungkin akan merasa nggak enak menolak karena akan membuat kecewa si perempuan. Kemudian dia harus menerima karena dasar kasihan atau karena nggak enak. Tidakkah itu memaksakan perasaannya? Dan kalau yang “ditembak” itu laki-laki yang nggak baik, kemungkinan diterimanya sangat besar, sama dengan kemungkinan si perempuan itu dipermaenkan olehnya. Hehe..
Well, ini hanya pemikiran kecil saya…
Kamis, 01 Desember 2011
23:38
Tidak ada komentar:
Posting Komentar