To : ‘putih di tengah biru’
prolog
Kalau emang benar kamu melakukan itu semua karena kamu nggak suka sama aku. Kamu ngelihat kalau aku anak sombong. Aku anggap caramu sungguh terlalu. Siapa kamu? Baru juga kenal sudah beraninya berbuat kayak gitu ke orang lain. Caramu sungguh sangat nggak elegan. Aku tahu anak cewek itu berperasaan. Lebih suka pake perasaan daripada pake logika. Dan kamu menjadikan itu sebagai titik kelemahan cewek. Termasuk aku. Kamu mau permainkan aku. Terserah kamu. Tapi, sekarang aku jadi bisa menilai kamu yang sebenenarnya itu gimana.
Hai, aku ingin kamu tau kalau daya ingatku itu masih bagus. Aku masih mengingat semua yang pernah kamu ceritakan ke aku. Dan apa kamu tau? Semuanya berbenturan. Dan kesimpulannya : kamu berbohong! Payah!!!
Chapter 1
Mengenalmu?
Aku pernah bertanya pada temanku apa aku salah mengenalmu? Bertemu denganmu?
Dia bilang nggak. Tapi, aku selalu saja tetap merasa lebih baik nggak bertemu kamu. Karena kalau aku nggak bertemu kamu kan trauma aku nggak bakalan nambah.
Mengenalmu?
Aku tak pernah merasa mengenalmu. Kamu bercerita kesana-kemari faktanya adalah semua ceritamu itu kadang ada yang nggak sinkron. Aku tidak tahu apa kamu lupa atau gimana. Terkadang aku yang mendengar ceritamu itu bisa bilang kalau hari ini kamu cerita seperti ini besok ceritanya sudah beda versi. Jadi, kamu berbohong ke aku dan cerita-ceritamu itu hanya bualanmu saja. Dan tentang hal ini juga dikuatkan kalau kita itu baru aja ketemu. Baru kenal. Nggak mungkin juga baru kenal sudah cerita panjang lebar ke orang yang baru dikenalnya. Nggak mungkin bisa percaya sama orang yang baru dikenalnya dengan mudahnya.
Dari semua bualanmu yang paling menyakitkan adalah tentang keadaan ekonomi keluarga kamu. Awalnya ku kira kita sama. Tapi, ternyata nggak. Sepertinya keadaannya lebih baik dariku dan setidaknya kamu juga punya kerabat-kerabat yang sepertinya keadaannya nggak jauh beda sama kamu.
Chapter 2
Tak perlu mengkait-kaitkan. Tak perlu menyama-nyamakan.
Kamu membual lagi. Aku bilang apa, kamu langsung cerita tentang kamu yang berhubungan dengan apa yang sudah aku bilang. Kamu seolah-olah bisa melakukan apa yang nggak bisa aku lakukan. Kamu seolah-olah mendapatkan apa yang nggak aku dapatkan. Tapi, kenyataannya semua itu hanya bualan kamu. Kamu seolah-olah pengen aku anggap hebat. Kamu selalu bertingkah seperti itu di depanku.
Terkadang aku bingung. Dan malas juga. Aku malas bicara sama kamu. Aku terlihat bodoh. Dan kamu memang suka membodohi orang lain termasuk aku. Tapi, aku yang tahu kamu seperti itu pun bisa bilang kenapa kamu harus berlagak bodoh juga? Kamu membodohi orang-orang dengan kamu yang bertingkah berlagak bodoh. Ah entahlah… yang jelas anggap aja aku diam seperti bisa kamu bodohi itu sebagai caraku menghargai kamu dengan aku mendengarkan kamu yang lagi bicara. Meski sebenarnya aku itu udah tau kalau kamu itu membual dan ingin membodohiku.
Chapter 3
Bad!
Aku masih ingat kamu pernah cerita dan bilang kalau kamu itu dianggap aneh oleh teman-temanmu. Karena kamu itu nggak suka sama cewek dan nggak doyan cowok. Lagi-lagi kamu membual.
The fact : kamu punya cewek. Pacaran udah lama.
Apa kamu nggak nggagep dia ada? Buruk! Kamu sungguh sangat buruk dalam menghargai orang lain.
Chapter 4
privasi
Kamu mulai berani mengakui keberadaannya dalam hidup kamu. Kamu bilang yang sebenarnya tentang status kamu. Haha. Aku nggak terlalu peduli. Karena itu urusanmu. Kehidupanmu. Tapi, kamu tetap aja masih membual. Karena kenyataannya cewek kamu itu nggak seperti apa yang kamu ceritakan ke aku. Malah yang kamu ceritakan itu mengarah ke seseorang yang juga baru aku kenal. Dan kamu juga mengenalnya. Kamu menyama-nyamakan cewekmu dengannya. Kamu memendam rasa ya dengannya?hahahay…
Tentang hubunganmu dan cewek kamu, aku nggak terlalu peduli. Itu privacy kamu yang nggak pengen aku ketahui. Dan kalau kamu nggak pengen orang tau ya udah nggak perlu ngebual. Cukup ngerhargai dia dengan mengakuinya. Kamu mengakui keberadaannya sebagai pacar kamu itu udah cukup. Aku rasa itu bagus, daripada kamu yang sebenarnya nggak sendiri itu bertingkah ato bilang kesana-kemari kalau kamu masih sendiri. It’s just my opinion. Kamu berhak untuk bercerita atau nggak tentang hubunganmu dengan dia. Karena itu bagian dari privacymu. Tapi aku cuma bilang daripada kamu boong mending lebih baik kamu diam dan nggak perlu cerita apa-apa.
Tapi, aku pernah marah ke kamu. Karena kamu udah mancing-mancing aku supaya aku bilang tentang privacy ku. Sialan!!! Apa pentingnya buat kamu?! Hah?!!! Udah selalu membual, membodohi orang-orang dan sekarang ngobrak-abrik privacy orang pula. DAMN!!!
Tapi, Aku beruntung aku nggak cerita rahasia besarku ke kamu.
Chapter 5
Teman?
Aku pernah bertanya padamu kenapa kamu berkenalan denganku seperti itu? Dengan ketidakjujuranmu? Dan kenapa kamu harus bersikap seperti itu? Seperti mempermainkanku. Aku tau aku anak kecil. Tapi, apa sebenarnya tujuanmu melakukannya ke aku? Apa karena kamu nggak suka sama aku karena di matamu aku seperti anak sombong?
Dan kamu menjawab: “Ya. Awalnya aku pengen jadi pacar kamu. Tapi, aku pikir kita lebih baik jadi teman. Maaf udah boongin kamu. Aku nglakuin itu karena aku pengen cari teman yang benar-benar teman. Selama ini aku merasa mereka yang berteman sama aku itu ada maunya. Jadi kayak manfaatin aku gitu…”
Wow… makin parah aja dah kamu!!!
Apa kamu merasa senang sudah merasa mempermainkanku?
Merasa senang bisa menggoda orang sepertiku?
Aku nggak pernah berharap lebih dari kamu. Bagiku seharusnya kamu itu tau diri. Menerimamu, memberi kesempatan padamu untuk masuk dihidup aku dan kenal atau bahkan berteman denganku adalah sesuatu yang sulit untukku. Karena sebenarnya kamu terlalu berbeda denganku. Orang sepertimu adalah orang yang sulit.
Aku jadi bertanya, apa untuk memulai suatu pertemanan harus pakai cara kaya gitu? kayak yang kamu lakuin ke aku? Ada juga kalau aku melakukan hal yang sama ke orang lain aku nggak bakalan punya teman. Yang ada aku bikin sakit hati banyak orang.
Temanku memang bilang kalau kamu seperti mempermainkanku. Aku bertanya pada diriku sendiri : Mempermainkan perasaanku? Apa aku pakai perasaan ke kamu? Buat apa? Kan aku nggak pernah berharap lebih dari kamu. Tapi, sebagai cewek kalau digitukan pastinya nggak maulah. Nggak suka. Iya kan girls? But, it’s not the main problem. Tapi, jika kamu balik bertanya: “Kalau nggak pakai perasaan kenapa bisa kayak gitu? kata-katanya kayak yang peduli banget? Okeh aku jawab: “ aku anggap itu biasa dan nggak terlalu. Hanya kepedulian sebagai teman. Lagian aku juga jarang yang menghubungi duluan. Dan aku takut kalau aku nggak balas kamu berpikiran yang nggak-nggak tentangku dan aku yang pada akhirnya nggak enak ke kamu”. Aku merasa kalau kamu cuma ingat aku, mencariku kalau kamu lagi butuh aku aja. Kamu menghubungiku berkata sopan dengan memakai salam dan berhasil membuatku merasa aneh dan menebak kalau kamu menghubungi aku kayak gitu pasti ada maunya. Bravo! Aku benar.
Dan aku pun takut kalau kamu memang memanfaatkanku aja. Jadi, kamu nggak mau orang lain manfaatin kamu. Tapi, kamu malah manfaatin aku. Yups! Seperti itulah kamu. Kamu selalu mau merasa aman. Kamu nggak pernah peduli sama orang lain. Jadi kamu bilang pengen jadi pacar aku pun nggak bakalan aku gubris. Karena itu pasti bualanmu. Sebelumnya pun kamu selalu bercanda yang nggak masuk akal dan mungkin itu kamu lakukan buat menggodaku. Jelek!!! Yups! Bercanda kamu jelek dan aku sangat nggak suka dengan bercandaan kayak gitu.
Chapter 6
Mikir apa nggak sih?
Dipikir dulu baru bertindak. Itu menurutku. Dan aku nggak tau bagaimana kalau kamu. Dan aku juga nggak tau sebenarnya kamu itu mikir dulu apa nggak kalau mau cerita ke aku. Terkadang aku merasa ada hal yang nggak etis yang kamu ceritakan. Hei, aku itu cewek dan kamu itu cowok dan aku juga masih anak di bawah umur.
Aku bisa menerka-nerka sendirilah arah ceritamu itu kemana. Maksud sebenarnya dari bualanmu. Aku nggak mau kamu mengajariku yang jelek-jelek. Aku nggak mau kamu membawa dampak buruk/negatif dihidupku. Ini cuma ketakutanku. Makanya aku harus berhati-hati denganmu.
Chapter 7
Harusnya aku nggak perlu berpamitan
Sebenarnya aku pengen aku senang. Haha. Senangnya hatiku. Aku gembira. Kita nggak lagi dekat dan aku nggak perlu dengar bualan-bualanmu dan aku tidak perlu melihat kepura-puraanmu. Yippy!!!
Tapi, ada rasa sedikit nyesel. Harusnya kalau hasilnya akan kayak gini aku dulu nggak perlu pamitan yang aku bilang kalau aku cuma ngetes kamu karena kamu bilang nggak bisa marah. Yaiyalah nggak pernah marah. Orang kamu nggak pernah peduli. Kamu kan paling-paling nganggep aku nggak penting.
Chapter 8
Cukup tau saja!
Pernah aku mengerjai kamu. Aku ganti nomer hape dan aku menghubungi kamu. Dan kamu menanggapi. Padahal kamu pernah bilang kalau kamu nggak bakalan menanggapi nomer-nomer yang nggak kamu kenal. (ini kebohonganmu lagi? Capek deh…huhhhuu). Sebelumnya aku nggak bilang kalau itu aku dan pada akhirnya aku bilang kalau itu aku. Dan dari sana aku jadi tau. Mungkin ada kata-katamu yang halus tapi sayangnya nadanya itu tinggi dan orang bisa bilang KASAR!!! Bahkan, di update statusmu setelah aku mengerjai kamu. Kamu sampai bisa bilang kayak gitu. Yups. Mungkin seperti itulah kamu yang sebenarnya. Sangat berbeda kalau kamu komunikasi ke aku. Tapi, cukup membuat aku tau saja lah!
Pelajaran yang aku dapatkan: orang-orang sering bilang kalau kita harus menjadi diri sendiri. Tapi, terkadang kita perlu menjadi orang lain untuk tau bagaimana yang sebenarnya orang yang pengen kita tau kebenarannya. (maaf ribet ngomongnya! Pokonya begitulah). Dan maaf apa yang aku lakuin ke kamu nggak bisa dibilang sama kayak yang kamu lakuin ke aku. Aku tidak membual separah kamu. Aku tidak membual mengarang cerita ke kamu. Aku cuma menutupi identitasku aja.
Chapter 9
illfeel
Aku udah illfeel sama kamu. Aku nggak tau apa aku sakit hati ke kamu atau gimana. Tapi, yang jelas yang aku pengen bilang ke kamu :” SELAMAT KAMU TELAH MEMBUAT ANAK ‘CACAT’ INI BERTAMBAH TRAUMA”. Dan Sekarang bawaannya kalau ngedenger kamu yang suka banyak omong dan suka membual itu aku jadi emosi. Daripada aku ngomong dengan nada tinggi yang kasar lebih baik aku pergi. Menghindari ngomong sama kamu. Dan aku yang emang pendiem memang nggak suka sama orang yang banyak ngomong. Ngalor-ngidul nggak jelas. Nggak bisa dipegang omongannya. Nggak bisa dipercaya. Tapi, anehnya kenapa atasan kamu bisa percaya sama kamu ya? Apa karena kamu yang suka bicara?
I don’t know and I don’t care.
Chapter 10
Epilog
Kamu aku sindir nggak mempan. Kamu yang nggak pernah peduli sama orang nggak pernah merasa. Atau mungkin kamu merasa tapi, ya begitulah kamu cuma bisa diam. Kenapa diam? Biasanya banyak bicara. Aku juga udah pernah ngomong langsung ke kamu. Tapi, ya begitulah kamu anggap ringan aja. Ya sudahlah. Aku berharap aku bisa lebih baik lagi dalam menjalani hidupku. Aku juga pernah bertanya pada Tuhan kenapa harus ada yang seperti ini di hidupku. Kenapa sekali lagi aku diginikan? Aku nggak mau masuk dalam kehidupan orang lain. Tapi, mereka selalu aja memasukkan aku di kehidupan mereka. Memasukkan aku dalam permainan mereka. Apa Salahku, Tuhan?
Aku ini “cacat” permanen. Aku punya luka traumatik yang sulit untuk aku sembuhkan. Dan aku nggak tau. Mungkin nggak bisa sembuh. Dan kamu orang baru dalam hidupku malah menambahkan trauma itu.
Aku malas mengingatmu. Rasanya pahit.
Aku ingin segera bisa menyembuhkan diriku sendiri.
Karena kalau bukan aku sendiri siapa lagi.
No body’s understand and no body’s care!
Mungkin ini adalah catatan kekecewaanku padamu yang sebenarnya sulit bagiku buat menulisnya.
Tapi, aku senang akhirnya aku bisa menulisnya.
STR04JN11-0725
Tidak ada komentar:
Posting Komentar