Jumat, 25 Februari 2011

“Biar Lebih Dekat, Na”

Suatu malam aku lagi-lagi berdiskusi tentang cinta dengan seorang temanku. Dia seorang cowok dan usianya sekitar dua tahun di atasku. Aku biasa berdiskusi lewat SMS dengannya. Aku sering bertanya padanya dan terkadang aku juga minta solusi dari permasalahanku ke dia. (masalah kampus..haha). Aku ingin tahu aja dan dia lumayan berpengalaman (menurutku…hehe). Habis kakakku aku tanyain gak mau, aku ajak diskusi gak mau. Malah dia menyuruh aku buat bertanya ke temanku itu. Ya sudahlah…sebagai adik yang baik nurut ajah dah sama kata kakak…hehe.

Aku bertanya padanya:

“Kenapa sih orang yang belajar cinta itu malah kayak belajar jadi orang lain?”

“Kenapa dia melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang yang ditaksirnya?”

“Kenapa dia jadi menyukai apa yang disukai orang yang ditaksirnya?”

” Padahal jelas-jelas hal itu bertentangan dengan orang tuanya…”

“Pantas ajah kalau orang tua melarang anaknya untuk pacaran, lha anaknya kayak jadi orang lain gitu. Gak nurut lagi sama orang tuanya”

Beberapa pertanyaan itu lah yang aku tanyakan padanya. Dan kemudian dia menjawab :

“Biar bisa lebih dekat, Na”

“Dia kayak gitu biar dia bisa ngerasa dekat sama orang yang ditaksirnya”

“Nanti kalau kamu udah mengalaminya sendiri kamu juga bakalan tau”

Hmm… Gitu ya…

CINTA???

GILA!!!!!!!!

Efeknya begitu dahsyat. Okelah bisa mengubah orang lain. Tapi ada dua kemungkinan juga. Negatif sama Positif. Kalau perubahan ke arah positif sih malah baik, Nah kalau ke arah Negatif???

Selain menjawab pertanyaanku dia juga memberiku satu “pelajaran” lagi. Katanya : “Menerima apa adanya itu hal yang sangat sulit”.

Yap! Menurutku juga begitu. Susah!. Ini seperti ilmu ikhlas yang jelas-jelas sangat gak gampang.

Hmm…Aku tak terburu-buru untuk cinta.

Apa aku menunggu?

Aku pun tak tau.

Mungkin belum ada waktu untukku

Untuk semua itu.

Jum’at, 25 Februari 2011

07:12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar