Kamis, 17 Februari 2011

Kid Forever

Awal-awal SMA, aku menemukan majalah lama punya kakakku yang ada di lemari. Aku baca majalah itu. Dan di dalamnya ada artikel yang membahas tentang film peterpan. Yups! Film kartun anak-anak yang ternyata juga dibuat versi live actionnya. Dari artikel itu aku lebih tertarik pada cerita dari peterpan itu sendiri, bukan filmnya. Peterpan, seorang anak laki-laki yang tinggal di neverland. Selalu bermain dan tidak mau jadi dewasa. Hmm…jadi anak-anak selamanya.

Di artikel itu disimpulkan kalau tidak ada orang yang mau menjadi anak-anak selamanya. Pasti orang-orang itu mau menjadi dewasa.

Tapi, waktu itu aku jadi mikir.

Hagh?! Gak mau jadi anak-anak selamanya? kenapa?”tanyaku sendiri.

Kan kalau jadi anak-anak kita bisa bermain terus. Nggak mikir tanggungjawab. Kalau kita dewasa kita udah penuh dengan masalah dan punya tanggungjawab yang berat.

Jujur, buatku. Jadi anak-anak atau dewasa itu jadi dilema. Ingin aku selamanya jadi anak-anak tapi, kenangan akan masa kanak-kanakku nggak selalu bahagia. Malah perih. Kalau jadi dewasa juga belum bisa. Dengan alasan pada waktu itu aku mau meraih bahagiaku. Masa kecilku kurang bahagia dan aku harus mendapatkannya. (GILA!!Haha..yaiyalah). Kalau belum bahagia akan tetap jadi anak-anak. Hehe. Selain itu juga karena aku ingin bisa menjaga hatiku. Aku nggak tahu kenapa kalau jadi dewasa, hati itu jadi gampang sakit. Beda dengan kalau jadi anak-anak, aku sedikit bisa mengurangi luka hati (untuk datangnya luka hati yang berbeda).

Tapi, keadaan itu juga menyiksaku. Dejavu. Luka lagi. Luka yang sama. Lukaku bukannya sembuh malah tambah. Sulit rasanya untuk meraih bahagia. Hari ini aku membangun senyum untuk bahagia, tapi besok seketika akan diruntuhkan oleh luka yang dihadirkan. Hah! Capek!

Dan, sekarang ini saat pikirku mulai terbuka (tapi semakin aneh…hehe….) aku tak perduli lagi dengan meraih bahagia masa lalu itu. Aku biasa bilang ke temanku kalau dewasaku itu nggak permanen. Dewasa akan ada pada kondisi-kondisi tertentu. Dan aku entah masih memilih untuk menjadi anak-anak selamnya atau nggak yang jelas untuk saat ini aku cenderung lebih berusaha untuk realistis, menerima kenyataan yang ada. Selain itu juga aku akan semakin menjaga hatiku.

“Hati berantakan itu kini begitu rapuh. Aku harus lebih menjaganya. Aku tidak ingin menciderainya”

Selasa, 16 Februari 2011

23:19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar