Hmmph. Gw nulis lagi yang masih ada hubungannya sama introvert dan ekstrovert. Hehe. (semoga nggak bosan).
Sebelumnya gw mau bahas judul tulisan gw dulu ah…hehe.
“Boom!!! And i’ll kill U”.
Boom disini itu buat mewakili suara letusan atau ledakan. Yups, gw kira nggak salah gw kasih judul kayak gitu. soalnya emang ada hubungannya sama tulisan gw ini. Well, daripada penasaran maksud gw apaan langsung ajalah. Silahkan dibaca (bagi yang berminat yang nggak berminat ya sudahlah gw nggak maksa buat baca kok..hehe)
Seorang yang mengaku kalau dirinya adalah seorang ekstrovert mengeluhkan dan menyesalkan tentang introvert. Dia merasa nggak tau apa yang sebenarnya mereka(para introvert) pikirkan, menduga2, dan nggak clear. Akibatnya banyak masalah jadi nggak selesai jika berhadapan dengan orang2 introvert. Dia juga berpendapat kalau kadang2 orang introvert suka menyimpan2 perasaan atau pemikiran, dan tau2 meledak. Dia merasa kalau ini masalah banget. Dia berujar kalau dia sering banget berurusan dengan orang2 introvert, dan rasanya nggak nyaman. Sebab menurut dia sikap yang jujur, jelas, dan terbuka membuat kita lebih cepat menangkap situasi dan memecahkan suatu permasalahan.
Sementara itu seorang introvert malah bilang kalau introvert itu bukan sulit ditebak melainkan malah mudah ditebak. Karena seorang introvert itu nggak bisa bohong. Kalau bohong pasti langsung ketahuan.
Okeh, gw introvert. Gw biasa diperlakuin berbeda. Tapi, yang ada malahan gw dan perbedaan gw itu nggak bisa diterima. Terkadang mereka mengeneralkan gw kayak mereka semau mereka. Gw nggak banyak omong. Gw ngomong kalau gw pengen ngomong dan yang gw omongin juga bukan hal-hal yang nggak penting. Gw tau mungkin anak macam gw ini bukan anak yang menyenangkan.
Gw nggak ngerti. Gw tau gw jarang ngomong. Jadi mereka juga nggak tau nada-nada gw ngomong itu kayak gimana dan maksud atau arti yang bisa dilihat dari nada itu sendiri juga kayak gimana. Gw nggak ngerti kalau gw udah mulai sedikit banyak bicara orang lain malah nanggapinnya gw lagi marah meledak-ledak gitu. Please, gw itu cuma ngomong. Gw cuma nanya. Gw ngerasa gw ngomong itu biasa nggak nyolot. Nggak ngeledak-ledak. Heih? Aneh. Cuma gara-gara gw jarang ngomong sekalinya gw ngomong panjang dikit gw dikira ngomong sampai ngeledak-ledak. Apa-apaan nih? Yang benar aja?! Lagian, kenapa sih harus bilang kayak gitu? kenapa? Apa kalau sudah meledak lantas jadi menakutkan karena bisa aja gw “membunuh” Lo sama kata-kata gw? Lo ngerasa gw nyerang Lo? Lo ngerasa terpojokkan dan nggak nyaman. Gw tau perang adu mulut emang nggak enak. Apalagi buat orang macam gw yang jarang ngomong. Udah pengen gw tinggal kali. Pengen keluar dari perang itu. Jujur, banyak omong itu capek. Soalnya gw nggak terbiasa. Hehe. Jadi nggak perlu kayak gitulah. Gw juga tau kok dimana gw harus diam. Uhya, satu hal lagi sebenarnya buat seorang introvert, ngomong itu mungkin bukan sesuatu hal yang mudah dilakukan kayak orang-orang ekstrovert lakukan. Gw aja sampi sekarang masih bingung gimana kalau gw ngomong sama bayi, balita, anak-anak, remaja dan dewasa. Gw masih belum tau. Dan payahnya gw sering grogi. Padahal ngomong sama kakak sendiri atau temen sebaya gw. (mungkin gara-gara gw nggak biasa ngomong yak? Jarang ngomong. Jadi grogian. Hehe). So, seorang introvert kalau mau ngomong itu bener-bener dipikirin dan jadinya malahan menurut orang-orang seorang introvert itu lemot. Padahal mereka itu bener-bener musti berpikir keras kalau mau ngomong. Hehe.
Sabtu, 09 April 2011
00:24
Tidak ada komentar:
Posting Komentar